Pertama denger namanya, awalnya pasti bikin kita ragu apa bakal bisa
ditemui penyakit seperti ini di Indonesia, mungkin karena namanya yang
tampak hanya bakal ditemui di negeri antah berantah sana. Namun, dengan
kultur dan sugesti sosial yang memang cukup kental di indonesia ditambah
begitu kreatifnya manusia-manusia Indonesia penyakit ini cukup mudah
ditemukan.
Sugesti sosial yang saya maksud adalah bahwa kebanyakan penduduk
negeri ini meyakini bahwa jamu-jamuan ramuan tradisional bangsa kita gak
ada duanya. Haha (termasuk penulis cukup meyakini hal ini). Tapi itu
dulu, ketika semua bahan baku pembuatan jamu betul-betul diambil murni
dari alam dan diolah alami tanpa penamnbahan zat kimia buatan apapun.
Bahan-bahan dimaksud dapat berupa beras kencur, kunyit asam, air sirih,
jahe, gula jawa, sambiloto, jeruk nipis, air daun pepaya, cabe puyang,
dan sebagainya.
Namun, ironisnya kepintaran saudara-saudara kita telah merusak citra
luhur jamu-jamuan di Indonesia. Bahan-bahan alami diganti dengan
bahan-bahan kimia termasuk obat untuk pencapaian tujuan secara instant.
Beberapa produk terbukti menggunakan analgetik kuat, dexamethasone,
furosemide dan obat-obat keras lain yang tentu dapat menimbulkan efek
negetif jika digunakan tidak sesuai indikasi dan dosis yang tepat.
Hasilnya, awalnya konsumen dibuat bangga dengan begitu cepatnya
mereka meraih sesuatu berhubungan dengan kekurangan kondisi tubuh
mereka. Rasa pegal-pegal yang hilang, berat badan menurun drastis, nafsu
makan bertambah adalah beberapa dari sekian banyak harapan konsumen
terhadap produk jamu. Namun ternyata dalam jangka panjang, berkat
sentuhan oknum-oknum yang gak beres, konsumsi terus-menerus jamu-jamuan
palsu ini berkembang bak sebuah bom waktu, karena ternyata komplikasi
yang terjadi justru berbahaya.
Ada satu penyakit yang kali ini aku ingin bahas berhubungan dengan
komplikasi pemakaian jamu palsu. Hal ini mengingat beberapa waktu lalu
penulis menemukan seorang pasien dengan penyakit dimaksud di Rumah
Sakit. Beliau adalah penggemar setia jamu penambah berat badan, sebut
saja Ny.Dexa (berhubungan dengan zat aktif yang kemungkinan besar
terkandung dalam jamu yang dikonsumsi, Dexamethasone -red-). Ny. Dexa
memang rutin mengkonsumsi jamu penambah berat badan (inget penambah
berat badan, bukan penambah nasfu yang lain ya..). Tulisan ini bukan
dimaksudkan untuk mendiskreditkan produk jamu kita, namun lebih
mengingatkan kita semua untuk lebih berhati-hati dalam memilih dan
mengkonsumsi jamu.
Sebelumnya mari perkenalkan nama sang penyakit adalah Sindrom cushing.
Baca Lengkap
Penyakit ini disebut juga dengan Hiperadrenokortikal. Nama penyakit
ini diambil dari Harvey Harvey Cushing, seorang ahli bedah yang pertama
kali mengidentifikasikan penyakit ini pada tahun 1912. Insiden penyakit
ini cukup tinggi angka kejadiannya di masyarakat. Dalam penelitian
secara global didapat hasil sedikitnya 1 dari tiap 5 orang populasi
dunia berkemungkinan terkena kelainan ini tanpa membedakan jenis
kelamin. Namun sumber lain mengatakan :
Rasio kejadian antara wanita dan pria untuk sindrom cushing adalah sekitar 5:1 berhubungan dengan tumor adrenal or pituitary.
Produksi ACTH lebih banyak pada pria dibandingkan dengan wanita karena peningkatan insidensitumor paru pada populasi ini.
Definisi
Gangguan yang timbul karena tingginya kadar kortisol di dalam darah oleh karena berbagai sebab.
Etiologi
Penyebab tersering adalah hiperplasi adrenal bilateral yang
berakibat hipersekresi dari ACTH oleh pituitary atau dari sebab seperti
small cell carcinoma paru, medullary carcinoma thyroid atau tumor timus,
pancreas atau ovarium.
Patofisiologi
Hipotalamus menghasilkan CRH (Corticotrophin Releasing Hormone) yang
merangsang kelenjar pituitary memproduksi ACTH. ACTH masuk ke dalam
darah menuju ke kelenjar adrenal dan menstimuli adrenal menghasilkan
kortisol. Kortisol disekresi oleh korteks adrenal dari area yang disebut
zona fasciculate. Normalnya kadar kortisol dalam jumlah tertentu akan
memberi negative feedback kepada kelenjar pituitary sehingga mengurangi
sekresi ACTH. Pada sindrom Cushing terjadi kegagalan pengaturan kadar
kortisol dalam darah oleh karena berbagai sebab. Misalnya sindrom
Cushing yang disebabkan oleh adenoma pada korteks adrenal. Adenoma ini
menyebabkan sekresi kortisol menjadi tinggi dan terus menerus sehingga
negative feedback yang diberikan kepada kelenjar pituitary menjadi
terlalu banyak sehingga kadar ACTH menjadi sangat rendah.
Gejala klinis
Beberapa manifestasi klinis yang sering muncul berupa obesitas,
hipertensi, osteoporosis, gangguan psikologis, jerawat, amenorrhea, dan
diabetes mellitus meskipun relative tidak spesifik. Manifestasi klinis
diatas dapat disertai dengan gejala sakit punggung, perdarahan bawah
kulit, striae, hirsutisme sering juga perubahan mental sampai psikosis.
Pasien-pasien dengan penyakit ini juga kelihatan kemerahan pada
wajahnya, disertai kegemukan sedang sampai berat, wajah bulat dan merah
(moon face). Kondisi otot jelek dan distribusi lemak bawah kulit
abnormal, di punggung relative lebih tebal dan di tungkai lebih tipis.
Bantalan lemak ini paling jelas di punggung atas dan di atas klavikula
(buffalo hump). Kulit menipis, mudah berdarah dan striae merah muda.
Striae cenderung terletak menyilang garis kulit, tampak pada sisi
abdomen, payudara, bokong, pinggul, paha dan lipatan ketiak. Dapat
dijumpai juga pertumbuhan berlebihan bulu rambut tubuh dan wajah. Bisa
terjadi sedikit pembesaran klitoris. Tekanan darah meninggi dan adanya
komplikasi hipertensi.
Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan yang dapat dilakukan untuk skrining adalah pengukuran
kadar kortisol plasma. Lalu dilanjutkan dengan tes supresi deksametason
untuk menilai respon kortisol, baru dilanjutkan dengan mengukur kadar
ACTH plasma. Pemeriksaan pencitraan seperti CT scan juga dapat dilakukan
dan terbukti dapat membantu evaluasi massa di kelenjar adrenal yang
tidak menimbulkan gejala.
Diagnosis
Dapat dilakukan dengan mencari tanda-tanda klinis kelebihan steroid
dalam tubuh, ditunjang dengan pemeriksaan skrining, tes supresi
deksametason dan pengukuran kadar ACTH plasma. Dapat juga dilengkapi
dengan pemeriksaan CT scan.
Diagnosis diferensial
Penyakit ini biasanya dibedakan menurut etiologinya.
Terapi
Terapi dilakukan berdasarkan etiologinya. Jika disebabkan oleh
karena tumor adrenal, maka harus dilakukan tindakan operatif untuk
pengangkatan tumor tersebut, hanya saja sisa kelenjar adrenal akan
mengalami atrofi. Terapi substitusi kortikosteroid dibutuhkan selama
berbulan-bulan dan diperlukan penghentian secara bertahap untuk
mengembalikan fungsi adrenal ke normal.
Tumor hipofisis harus diobati dengan radiasi eksternal, implantasi
atau hipofisektomi transfenoidal. Adrenalektomi total merupakan
pengobatan yang sering dilakukan tetapi bisa terjadi renjatan
postoperasi, sepsis dan penyembuhan yang lambat. Pada pasien yang
menjalani adrenalektomi total diperlukan kortikosteroid permanent. Ada 3
jenis obat yang digunakan untuk menekan sekresi kortisol karsinoma
diantaranya metyrapone, amino gluthemide dan p-DDD. Dapat digunakan
untuk mengendalikan sindrom Cushing (dan untuk mengurangi resiko
operasi) sebelum pengobatan radikal atau sebagai alternative jika
tindakan bedah merupakan kontraindikasi.
Komplikasi
Komplikasi yang dapat timbul adalah sindrom Nelson, disebabkan oleh
pembesaran kelenjar hipofisis. Biasanya dengan pegmentasi kulit yang
hebat bertahun-tahun setelah adrenalektomi total. Pengobatan
alternatifnya dengan merusak hipofisis melalui berbagai cara.
Penyembuhan kurang pasti tetapi lebih aman dan terhindar dari resiko
sindrom Nelson.
Prognosis
Sindrom Cushing yang tidak diobati akan fatal dalam beberapa tahun
oleh karena gangguan kardiovaskular dan sepsis. Setelah pengobatan
radikal kelihatan membaik, bergantung kepada apakah gangguan kerusakan
kardiovaskular irreversible.
Pengobatan substitusi permanent memberikan resiko pada waktu pasien
mengalami stress dan diperlukan perawatan khusus. Karsinoma adrenal atau
yang lainnya cepat menjadi fatal oleh karena kakeksia dan/atau
metastasis.
Sindrom cuthing
Langganan:
Komentar (Atom)








0 komentar:
Posting Komentar